Luruskan Niat..
image

AHMAD ROHKIB

0817 467 387


Jangan pernah berharap orang lain kan mengerti tapi belajarlah untuk bisa mengerti. Jangan pernah berharap orang lain kan memberi tapi belajarlah untuk selalu memberi. Dan jangan pernah berharap maaf dari orang lain tapi belajarlah untuk selalu memaafkan.
Menu Utama
Partner Links
Chat with Admin
Pengunjung

Jubah Kebahagiaan

Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang.

Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya. Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.

Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”

“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat!” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal!!

Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan- bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja. Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia dan mengambil pakaiannya.

Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja. Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.

“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang raja tampak memuncak. Dengan air mata berlinang dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.

Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?

Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”

***

Sahabat.. Bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab kebahagiaan seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.

Seringkali memang, kebahagiaan tidak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan tak hadir dalam indahnya istana- istana megah. Dan ya.. Kebahagiaan seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.

Seringkali malah kita jumpai kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah- rumah kecil yang orang- orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali kebahagiaan itu hadir, pada jalin- jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.

Sebab, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam qalbu ini. Kebahagiaan berada tidak jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki. Adakah “pakaian- pakaian kebahagiaan” itu telah Anda sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.

"Hanya kita yang bisa merasakan kebahagiaan, hanya kita yang bisa bilang "saya bahagia" orang lain  tidak pernah tahu apakah kita bahagia atau tidak.. Karena sebagian besar kita hanya melihat orang dari luarnya saja, "Owwhh.. Dia bahagia sekali..”

Sekian artikel yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Artikel ini kami dapat dari salah seorang rekan di facebook.


Tags: tsunami team


4 Komentar
image

Wed, 30 Dec 2009 @07:22

Admin

Masya Allah.. Allahu Akbar.. Kebahagiaan memang hanya ada di hati.. Luruskan niat untuk Allah... Bismillah..

image

Fri, 12 Feb 2010 @17:09

Belum bahagia

Bahagia di atas penderitaan orang lain juga ga baik lhooo...
;-)
GO PLATINUM!

image

Sun, 28 Feb 2010 @23:00

Boleng

apakah kebahagiaan selalu diukur dengan materi?????

image

Sat, 6 Mar 2010 @15:25

Pervita

Mencoba ikhlaskan diri tuk menerima apa yang tlah di tetapkan-Nya untuk menjemput kebahagian dan kekayaan hati.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+1+4

Copyright © 2010 Ahmad Rohkib · All Rights Reserved
Proudly Powered by DBS Webmatic